Hidupkan usrah!USRAH!usrah!Jasamu akan dikenang sentiasa duhai Hasan Al-Banna..

Hidupkan usrah!USRAH!usrah!Jasamu akan dikenang sentiasa duhai Hasan Al-Banna..
Tegakkanlah kalimah ALLAH di muka Bumi yang penuh fatamorgana ini..La Ilaha Illallah,Muhammad Ya Rasulullah Ya Habiballah...

Search This Blog

Thursday, March 18, 2010

Mesej: Surat cinta!!

“Anda melihat manusia membaca al-Quran dengan cepat. Mereka membaca huruf-huruf al-Quran dengan suara yang baik (sebutan) yang baik. Mereka berdebat tentang baris di bawah, di hadapan dan baris di atas seakan-akan mereka sedang membaca syair-syair Arab. Merenungi maksud al-Quran serta mengamalkannya menjadi tidak penting bagi mereka. Adakah dalam dunia ini wujud keadaan terpedaya yang lebih daripada itu?” (Ihya Ulumuddin, Imam al-Ghazali (terjemahan Prof. TK. H. Ismail Yakub MA), Pust. Nasional, 1981, Singapura, jil 6 hal 34)

Di musim Ramadan ini ramai yang mengaji, bertadarus atau membaca al-Quran. Ia sememangnya satu amalan yang baik yang mendatangkan pahala, insya-Allah. Namun siapakah yang sebenarnya membaca al-Quran di sisi Allah?

Berhubung dengan ini Allah berfirman,
“Dan mereka yang telah Kami berikan Kitab kemudian mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itulah yang beriman dengannya. Barang siapa yang ingkar terhadapnya mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Surah Al-Baqarah ayat 121)

Dalam ayat ini Allah menegaskan bahawa mereka yang benar-benar membaca Kitab Allah ialah mereka yang membacanya ‘haqqa tilaawatih’. Siapakah mereka itu? As-Syeikh Said Hawa di dalam Al-Asas fit Tafsir mendatangkan pendapat sahabat Abdullah ibn Masud ra yang berkata:


“Demi Allah, maksud membaca Kitab dengan bacaan yang sebenarnya (iaitu haqqa tilaawatih) ialah menghalalkan apa yang dihalalkannya, mengharamkan apa yang diharamkannya, membaca seperti mana ia diturunkan Allah, tidak mengubah kalam Tuhan dari tempatnya dan tidak mentakwilkan ayat-ayatnya secara yang tidak betul.”

Untuk tujuan ini kita perlu memahami apa yang kita baca dan bukan sekadar membaca, mengaji dan bertadarus begitu sahaja. Allah berfirman,
“Apakah mereka tidak tadabur al-Quran? Sekiranya al-Quran itu bukan dari sisi Allah tentulah mereka akan mendapati percanggahan yang banyak di dalamnya.” (Surah An-Nisak ayat 82)
Ketika menerangkan maksud ayat ini, Imam Ibn Kathir di dalam Tafsir al-Quran al-Azim berkata, “Allah mengarahkan mereka agar mengamati isi-isi al-Quran dan melarang mereka dari berpaling daripadanya. Allah juga mengarah mereka agar memahami maksud ayat-ayat al-Quran yang begitu halus lafaznya serta dipenuhi kebijaksanaan”.

Ramai dari kalangan umat Islam di Nusantara pada hari ini lebih mengutamakan pembacaan al-Quran mengikut tajwid yang betul tanpa banyak memberi tumpuan kepada kefahaman ayat, sedangkan Allah menghendaki umat Islam memahami dan mengkaji isi-isi Al-Quran. Apabila mesej al-Quran dapat difahami dengan betul, barulah penghayatan akan dapat dilaksanakan dengan baik.

Selamat MENGAJI dan MENGKAJI

Sumber : Dr Danial

Wednesday, March 10, 2010

Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu...
Bismillaahirrohmaanirrohiim.........


Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurah atas nabi kita Muhammad, keluarga beserta shahabat beliau.

Ummat Islam adalah ummat yang murni dan suci dalam perkara akidah, ibadah dan muamalah. Nabi shallallahu'alaihiwasallam melarang hal-hal yang dapat membangkitkan amarah serta menimbulkan permusuhan dan kebencian. Beliau bersabda: "Janganlah kalian saling bermusuhan, saling iri, saling membelakangi, dan janganlah kalian saling memutuskan hubungan. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim untuk memutuskan hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari". (H.R Muslim)

Beliau juga menganjurkan untuk saling mencintai dan berkasih sayang. "Demi Dzat yang jiwaku ada di tangannya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai ... (H.R Muslim)

Ketika Nabi shallallahu'alaihiwasallam ditanya manusia yang paling utama, beliau menjawab: "Setiap orang yang makhmul al-qalb dan shaduq al-lisan (sangat benar ucapannya). Para shahabat lalu bertanya: Kami mengetahui tentang Shaduqul lisan, akan tetapi apa maksud dari makhmul al-qalb ? Maka beliau menjawab: Yaitu orang yang bertakwa lagi bersih (jiwanya), tidak mempunyai dosa, kedzaliman, dendam, maupun rasa iri dengki". (H.R Ibnu Majah).

Jiwa yang bersih merupakan salah satu nikmat yang dianugrahkan kepada ahli surga ketika mereka masuk ke dalamnya.

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَاناً عَلَى سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ
"Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan" (Q.S Al-Hijr 47)

Kebersihan jiwa memberikan ketenangan di dunia dan keberuntungan di akherat serta merupakan salah satu sebab masuk ke dalam surga. Ibnu Hazm menceritakan keadaan orang-orang yang dengki dan bermusuhan, yang hati mereka dalam keadaan sakit: "Aku memperhatikan kebanyakan manusia – kecuali yang Allah pelihara dan jumlah mereka sedikit – menyegerakan kesengsaraan, gundah gulana serta keletihan bagi diri mereka di dunia, lalu memikul dosa yang besar di akherat sehingga menyebabkan (mereka) masuk ke dalam neraka dengan sesuatu hal yang sama sekali tidak mendatangkan manfaat, seperti menginginkan harga barang yang melambung yang menyengsarakan masyarakat, dan mereka yang tidak berdosa.

Begitu pula mengangan-angankan datangnya musibah yang dahsyat terhadap orang yang ia benci. Padahal mereka sadar kalau keinginan buruk tadi tidak akan menyegerakan (kemudharatan) sedikitpun.

Seandainya niat mereka bersih dan mereka perbaiki, tentulah ketenangan akan mereka dapatkan dan mereka menyibukkan diri untuk kebaikan urusan mereka. Pahala yang besar juga akan mereka raih di akherat dengan tanpa mengakhirkan atau menghalangi sedikitpun dari apa yang mereka inginkan. Maka adakah tipuan yang lebih besar keadaannya dari apa yang telah kami peringatkan? Dan kebahagian mana yang lebih besar dari apa yang telah kita anjurkan ?

Banyak orang pada saat ini yang tidak memakan barang yang haram atau memandang pada apa yang diharamkan, akan tetapi ia membiarkan hatinya bergelimang dalam rasa dendam dan kedengkian. Berkata Fath bin Syakhraf: Abdullah al-Antaki berkata padaku: "Wahai Khurasani: Kunci segala perkara itu hanya ada empat, tidak lebih: Pandanganmu, lisanmu, hatimu dan nafsumu. Maka perhatikanlah matamu, jangan sampai memandang pada apa yang tidak halal, dan perhatikan lisanmu, jangan mengucapkan sesuatu yang Allah mengetahui apa yang tidak bersesuaian dengannya dalam hatimu. Perhatikan juga hatimu, jangan sampai tersimpan rasa dendam dan dengki pada salah seorang dari kaum muslimin. Perhatikan pula nafsumu, jangan sampai menginginkan sedikitpun dari kejahatan. Jika dirimu tidak memiliki empat hal di atas maka tuangkanlah abu di atas kepalamu, karena engkau telah celaka".

Sebagian orang menyangka bahwa tanda hati yang selamat itu adalah gampang tertipu dan ditertawakan, ini adalah tidak benar. Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: "Perbedaan antara jiwa yang selamat dan lemah fikiran serta lalai adalah bahwa jiwa yang selamat tidak menginginkan kejahatan setelah mengetahuinya, sehingga hatinya terbebas dari keinginan melakukannya dan bukan mengetahui kejahatan lalu melakukannya. Ini berbeda dengan orang yang bodoh dan lalai yang mana ia jahil dan sedikit pengetahuannya. Hal seperti ini tidak terpuji, karena merupakan suatu kekurangan. Manusia memuji orang semacam ini, karena mereka selamat darinya. Merupakan suatu kesempurnaan bila seseorang mengetahui segala bentuk kejahatan dan selamat dari keinginan melakukannya. Berkata Umar bin Khattab r.a: "Aku bukan seorang penipu dan tidak bisa dikelabui oleh penipu". Beliau lebih arif dari tipuan dan lebih wara' dari perbuatan menipu.

Jiwa yang selamat adalah salah satu sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Anas bin Malik r.a menceritakan: "Suatu hari kami duduk di majlis Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam, lalu beliau bersabda: "Sebentar lagi akan akan muncul dihadapan kalian salah satu calon penghuni surga. Lalu datanglah salah seorang dari kaum Ansar yang janggutnya meneteskan air dari bekas wudhu, sedang tangan kirinya memegang kedua terompahnya. Keesokan harinya nabi saw. mengabarkan lagi, dan muncullah orang tadi. Pada hari yang ketiga, nabi saw. mengabarkan lagi, dan muncullah orang tadi, sebagaimana keadaan datangnya pada kali yang pertama. Ketika nabi saw. berdiri, Abdullah bin Al-'Amr bin Al-'Ash r.a membuntuti orang tadi kemudian mengatakan: "Aku berselisih dengan ayahku, dan aku bersumpah untuk tidak menemuinya dalam waktu tiga hari. Jika engkau mengizinkan aku untuk menginap (di rumahmu) sampai berlalu tiga hari". Maka orang tersebut menjawab: "Baiklah".

Berkata Anas r.a : Abdullah menceritakan bahwa ia bermalam di rumah orang tadi selama tiga malam, akan tetapi ia tidak mendapatinya shalat malam. Hanya saja apabila ia terbangun dari tidurnya, ia berdzikir dan mengagungkan Allah sampai Shalat Fajar. Abdullah melanjutkan, namun aku tidak pernah mendengarnya mengatakan sesuatu kecuali kebaikan. Setelah tiga hari berlalu, dan hampir saja aku meremehkan amalannya, aku katakan padanya: "Wahai Abdullah, sebenarnya tidak terjadi apa-apa antara aku dan ayahku, tetapi aku mendengar rasulullah saw. bersabda tentang engkau sebanyak tiga kali: "Akan hadir pada kalian seorang penghuni surga", lalu engkau muncul pada ketiga saat tersebut. Lantas aku ingin untuk bermalam di rumahmu untuk menyaksikan lebih dekat amalanmu, sehingga aku bisa meneladaninya. Tetapi aku tidak mendapatimu banyak beramal. Amalan apakah gerangan yang menyampaikan pada apa yang disabdakan nabi saw. ? Lalu orang tersebut menjawab: "Tidak ada selain yang engkau lihat sendiri, hanya saja aku tidak pernah merasa iri dengki pada seseorang yang diberi kebaikan oleh Allah. Maka Abdullah berkata: "Inilah yang menyampaikan engkau, dan inilah yang tidak mampu kami lakukan" (H.R Ahmad)

Faktor pendorong timbulnya sikap saling membenci:

1. Mentaati setan.
Allah berfirman:
وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُواْ الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإِنْسَانِ عَدُوّاً مُّبِيناً
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia" (Q.S Al-Israa 53)

Rasulullah saw. bersabda: "Setan berputus asa untuk disembah di jazirah arab, tetapi ia berusaha menaburkan benih permusuhan diantara mereka" (H.R Muslim)

2. Marah: adalah kunci setiap kejahatan. Nabi saw. telah berpesan pada seseorang untuk menjauhi sikap marah dengan sabda beliau: "Janganlah engkau marah". Beliau mengulanginya berkali-kali. (H.R Bukhari).

Marah akan menjurus pada sikap mengejek orang lain, mengurangi hak serta mengganggu mereka yang pada akhirnya menyebabkan permusuhan dan perpecahan.


more ==>> http://ukhtifr.blogspot.com/

KECANTIKAN HAKIKI SEORANG MUJAHIDAH


Friday, March 5, 2010




Sabda Rasulullah s.a.w "Keadaan orang Mukmin itu sangat menakjubkan, kerana segala urusan yang menimpanya dianggap baik. Tetapi keadaan ini hanya berlaku kepada orang yang beriman. Iaitu, apabila mendapat kesenangan, dia bersyukur kerana itu lebih baik untuknya. Dan apabila dilanda kesusahan dia bersabar, kerana itu lebih baik untuknya." (Riwayat Muslim daripada Abu Yahya Syuhaib bin Sinan r.a)